
***
aku seperti mendengarmu bicara, meski tak ada suara. menggumam dalam remang malam yang padat akan kabut pekat. betapa kata hatimu begitu jelas kudengar. tentang lara, tentang duka, tentang hati yang sendiri...
empat tahun delapan bulan sudah, sejak semua tak lagi sama. hanya diam, sepi, sendiri....
seumpama ini adalah jalanan lengang, hanya ada bias sinar tak terlalu terang , sehingga jalan nampak temaram, butir bebatuan yang terinjak membuat setiap langkahmu sedikit berisik, dan alam yang maha kaya tak juga membuat jalanan lengang ini menjadi cerah karenanya...
itu karena hatimu telah berkabut, tertutup oleh sesosok bayang entah siapa, sehingga tak lagi kau lihat jelas seseorang yang nyata dan ada disampingmu
dia menunggumu dalam doanya yang panjang, pagi siang dan malamnya dipertaruhkannya hanya untukmu...untuk terbukanya mata hatimu
jangan biarkan separuh jiwa yang ada menjadi membeku seperti separuh jiwa yang kau punya, bila kau mengeluhkan kata lelah, mungkin hal yang sama juga yang dia rasakan...
lelah, lemah, tak berdaya, sendiri, sepi, tak berteman.
mengapa harus ada keluhan yang memberatkan, jika semua masih bisa dibicarakan baik-baik...sebelum semuanya terlambat dan menjadi kenangan masa lalu tak termaafkan
kamu, dia, adalah satu...tak hendak terpisahkan....itu janji yang terbuhul dua dasa warsa yang lalu...
bila lelah mendera, mari ngaso sejenak...kita urai benang kusut tak berujung ini dengan memateri cinta dulu yang kalian punyai...cinta bersahaja dari mana hidup bersama
berawal
***
catatan kecil, pengingat kepada dua hati yang sangat aku sayangi
0 komentar:
Poskan Komentar