
Siang yang sejuk itu saya duduk berdua dengan seorang Ibu 65 tahun. Ibunda dari Wita, satu diantara sekian sahabat dekat saya. Bukan tak sengaja saya bersama si Ibu siang ini, Beliaulah yang memanggil saya untuk datang bertandang kerumahnya, untuk mendengar curhatannya.
Begitulah, cerita mengalir dengan rancak. Cerita tentang galau hati seorang Ibu ketika menemui kisah hidup putri keduanya. Tentu saja, seperti setiap sesi curhat yang saya lewati, tak pernah ketinggalan yang namanya derai airmata mewarnainya :(
Sang Ibu berkisah tentang bagaimana sedih hatinya kala mendapati kisah drama rumah tangga si Wita. Yang saat ini seperti digantung oleh suaminya yang mendua. Bagaimana sang Ibu menyesali nasib sang putri yang pernah digadang-gadangnya nya hidup berbahagia seperti dalam dongeng2 kerajaan. Namun ternyata nasib dan takdir tak pernah benar-benar berpihak padanya. Nasib yang membawa Wita saat ini berada dibibir jurang kehancuran rumah tangganya.
Saya merasaakn betapa sang Ibu begitu menyesali nasib sang puteri, dan berbalik menjadi menyalahkan pilihan Wita. Wita dinilai salah memilih Andri sebagai pasangan hidupnya, Andri yang memang sejak pertama tak pernah benar-benar diterima dan direstuinya sebagai menantu. Tak ayal meluncur dari bibir sang Ibu segala kata dan bentuk penyesalan itu, sang Ibu seperti tak bisa menerima suratan takdir dan jodoh yang telah disediakan Allah untuk anaknya. Beliau mulai membanding-bandingkan kehidupan rumah tangga Wita dengan kakak dan ketiga adiknya. Sang Ibu menyayangkan keputusan sang puteri untuk tetap setia kepada suaminya dengan keyakinan bahwa suatu saat Andri akan kembali kepelukannya suatu hari kelak. Menurut sang Ibu, mumpung Wita masih cukup available untuk membuka hati dan cerita hidup yang baru, Beliau ingin Wita segera memutuskan untuk mengakhiri drama rumah tangganya itu saja...FYI, usia Wita saat ini memang belum genap 40 tahun, dengan dua jagoan kecilnya... Masalah menjadi makin rumit karena Wita merasa sang Ibu tak pernah bisa menerima keadaannya dan merasa hidupnya makin ruwet karena digerecoki sang ibu, alih-alih mendukung Wita untuk menyelesaikan secara baik2 masalahnya, sang Ibu selalu mendesak Wita untuk mengambil keputusan berpisah dengan Andri... Yang terjadi sekarang adalah hubungan yang memburuk antara Wita dengan suami dan Wita dengan sang Ibu. Tak kalah runyam buruknya hubungan sang Ibu dengan Andri, menantunya... Wita merasa dimusihi Ibunya, dan Ibunya merasa tak dihargai lagi oleh putrinya, hal ini menjadi sebuah lingkaran setan tak bertepi. Disaat seharusnya Wita disupport oleh keluarganya, dia malah merasa dijauhi dan dimusuhi dan tak mendapat dukungan untuk keputusan yang tengah ia ambil...aaaarrrghhhh....
Well, begitulah....saya bisa dan sangat bisa merasakan galau hati sang Ibu. Namun sebagai sahabat Wita, saya juga sangat bisa mengerti dan berempati terhadap lelakon yang dialaminya. Bahkan dengan akal sehat dan logika saya juga bisa menerima keputusan apa yang telah diambil oleh Wita. Sebagai sahabat, tak satu kalimat ceritapun terlewatkan olehnya untuk tak dibaginya kepada saya. Saya sangat bisa mengerti dan merasakan apa yang saat ini sedang dia rasakan.
Tapi jangan salah, saya adalah seorang Ibu dari kedua putri saya sekaligus seorang putri tunggal dari Ibu saya. Posisi saya seperti berada pada satu buah garis tengah dimana saya harus bisa menyikapi ini dengan cara seobyektif mungkin. Please jangan salahkan saya kalau saya terbawa galau oleh curhatan kali ini. Saya sangat bisa memposisikan diri saya sebagai sang Ibu dan sebagai Wita. Sangat bisa :(
Saya memang tak harus bersikap dihadapan sang Ibu maupun Wita. Posisi saya saat ini hanyalah keranjang sampah curhatan mereka. Saya merasa tak harus menyampaikan wacana atau apa, karena jujur saya sendiri seperti speechless dihadapan sang Ibu. Sepertinya sang Ibu sudah cukup puas mendapati saya siap sedia dengan kuping dan hati saya mendengarkan curhat habis2annya, sampai saya beranjak pulang siang itu.
Begitulah, ada beberapa pelajaran dan hikmah yang bisa saya ambil dari pertemuan saya dengan sang Ibu hari ini. Bahwa manusia tak pernah terlepas dari masalah, besar ataupun kecil. Bahwa benar Allah selalu menjanjikan solusi sebagai satu paket hemat dengan ujian yang diberikanNya. Meski itu adalah rahasia, adalah misteri... Kedepannya aku ingin ini bisa menjadi referensi saat aku menyikapi kedua putriku, juga ketika aku harus menerima sikap Ibuku saat aku terbelit masalah, apapun itu....seorang Ibu, siapapun itu selalu ingin memberikan dan menemukan hal baik dan terbaik untuk anak-anaknya.
Satu lagi pelajaran yang aku dapatkan, bahwa sebagai seorang Ibu hendaknya kita berpikir dan berucap baik untuk anak2 kita...hindarkan semacam menyumpahi anak-anak dengan kalimat buruk, karena kalimat yang terucap dan tersimpan dihati seorang Ibu adalah doa untuk anak-anaknya...
Tuhan, ingatkan saya untuk itu...
*
Thx to Wita, Andri dan Ibu R yang telah menginspirasi tulisan ini
note : nama tokoh disamarkan :)
1 komentar:
Jeng Ayik, ikut belajar dari perbincangan dan permenungannya ya, salam
Poskan Komentar