Jumat, 27 Januari 2012

bahagia itu menular :)




Tadinya saya gak percaya ketika ada seorang teman yang bilang kalau rasa bahagia itu bisa menular. Halah...kok kayak penyakit kulit saja...menular :p
Logikanya begini, saat kita merasakan ketidakbahagiaan apalagi ketika kita mendramatisir rasa tidak bahagia menjadi perilaku galau maka hal itu juga akan dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita, sehingga pada akhirnya mereka akan terkontaminasi rasa tidak bahagia yang sedang kita rasakan.
Mau bukti ? coba deh, coba saja ya....jika kita punya hobi mengeluh ( apa ini bisa disebut hobi ya ? tau ah...gelap :p ) atau kebiasaan semacam itulah, serba tak puas dengan keadaan dan kenyataan, intinya itu...maka efeknya akan tercermin pada wajah dan sikap tubuh kita. Efeknya lagi , orang-orang yang tertarik untuk mendekat dan terlibat interaksi intens dengan orang yang seperti ini pastilah orang-orang yang mempunyai hobi dan kebiasaan yang sama...suka ngedumel, suka berkeluh kesah, suka sambat , tidak pernah merasa puas dalam keadaan apapun, sudah merasa paling bener sendiri...ujung-ujungnya saya suka menyebut mereka sebagai manusia yg egois...hedeeeh...:( lha maunya enak sendiri...:).
Tapi bener kan hasil investigasi saya dan teman saya ini ? hi hi hi...investigasi iseng saja sih...
Nah, sebaliknya rasa bahagia yang kita rasakan juga punya potensi menular kepada orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Bukan cuma teman-teman yang berinteraksi di dunia nyata, bahkan orang-orang yg terhubung dengan kita di situs dan jejaring sosial...kalau yang ini sudah dibuktikan dengan sebuah penelitian yang sahih. :)
Halah...lha ini kok jadi nggladrah ya, dimulai dari rasa nggak nyaman setiap kali membaca status beberapa teman di Fb yang setiap kali update kok nadanya mengeluh karena berbagai macam sebab. Penginnya sih mengusulkan kepada teman-teman itu, mbok ya daripada waktu dan energi terbuang habis untuk curhat keluh kesah nan galau yang kadang memancing emosi para komentator :p kenapa tidak kita buat saja diri kita bahagia dengan kedaan kita. Anggaplah kita sedang menjalani suatu proses game , mendapati suatu keadaan terbaik dari kondisi yang terburuk sekalipun.

Bahagia itu bisa diciptakan, kata teman saya lagi. Misalnya dengan melakukan hal-hal menarik. Memikirkan hal-hal yang positif dan menyenangkan. Tersenyum (sudah selalu saya lakukan). Tertawa...bahkan kalau perlu mentertawakan diri sendiri, kebodohan kita, kekonyolan kita...Bahagia itu saat kita menjadi diri sendiri, memerdekakan hati, kata teman saya lagi yang kemudian saya amini :).
Jadi. Jika kemudian orang-orang yang tadinya selalu berpikiran negatif kemudian menjadi tertular rasa bahagia kita sehingga berubah menjadi lebih menyenangkan daripada sebelumnya, anggap saja itu bonus . Betul tidak ?

ps :
obrolan jagongan ngalor ngidul bersama sohibku Denok
thx ya Nok..:) *

pict taken from here

3 komentar:

Mechta mengatakan...

apa kabar mbak Ayik ?
aku kok setuju banget bahwa rasa bahagia itu menular, itu makanya aku berusaha berdekatan dg mereka yg berbahagia dan mencoba membuat bahagia mereka yg di dekatku, agar bahagia itu selalu hadir dihatiku, hehe...

Sekar Lawu mengatakan...

jeng Mechta....ayo kita saling menularkan virus bahagia...he he he...miss U, jeng :)

Major-E mengatakan...

wah, setuju banget nih...
satu lagi yang menurut saya bisa bikin kita jadi hepi yaitu mensyukuri segala kondisi kita, ambil sisi-sisi baiknya, pasti akan bisa memacu hepi..
josss mbak...!