Selasa, 31 Maret 2009

Allah ada disini...


Ketahuilah OlehMU

Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia..
Allah
tahu betapa keras engkau sudah berusaha.

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...
Allah
sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...
Allah
sedang menunggu bersama denganmu.

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon...
Allah
selalu berada disampingmu.

Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...
Allah
punya jawabannya.


Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...
Allah
dapat menenangkanmu.

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...
Allah
sedang berbisik kepadamu.

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur...
Allah
telah memberkatimu.

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban.. .
Allah
telah tersenyum padamu.


Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...
Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.

Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap...
Allah TAHU .......



Dari Abdullah bin 'Amr r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda, Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat...




(dari milis tetangga sebelah)

Sabtu, 21 Maret 2009

Karin si pembayun


Dibulan ke 10 pernikahan kami, ketika suatu hari satu usaha pembuktian aku lakukan, dan aku dinyatakan positif mengandung buah cinta kami...." aku positif", kataku dengan perasaan yang sulit aku gambarkan..." Alhamdulillah ", kalimat syukur meluncur dari suami dan seluruh keluarga besar.
Menjalani masa-masa ajaib ini dengan rasa bahagia, membayangkan akan seperti apa wajah anak kami nantinya....laki-laki atau perempuankah ? sungguh hari penantian panjang dan mendebarkan. Proses kelahiran saya nikmati sebagai pengalaman pertama menghadirkan sesosok tubuh mungil bernyawa...sensasinya sungguh luar biasa, rasa bahagia dan syukur segera menghapus 18 jam perjuangan menahan rasa sakit akibat kontraksi dan kehabisan air ketuban. 21 Maret 1993 menjelang maghrib dia hadir dan diletakkan oleh bidan diatas dadaku. Merah, kecil, lemah,....indah..... Alhamdulillah, Subhanallah....3,3 kg berat bayi perempuan kami. Dan kami sepakat memberinya nama Karina Astary.

Karina Astary, kami menyebutnya Karin atau si Mbak, panggilan badungnya Karinul Cenal Cenul atau Karimbul. Proses tumbuh kembangnya menjadikan hidup keluarga kecil kami makin penuh warna. Karin tumbuh menjadi pribadi yang, Insya Allah, membuat kami sekeluarga bahagia. Masing-masing anak memang mempunyai kepribadiannya sendiri yang menuntut perlakuan yang berbeda, syukurlah, sejauh ini saya merasa tidak menemui kesulitan dalam hal mendidik dan membimbing Karina, pembarep saya.

Dalam banyak hal Karin sudah bisa diajak berbagi rasa. Kami biasa berbagi cerita seperti dua orang sahabat. Tangis dan tawa, sedih dan gembira, kami bagi bersama. Karin dan saya juga berbagi rahasia. Dalam hal mendidiknya, saya menerapkan cara yang cukup demokratis dan terbuka. Karin boleh tahu apa saja sepanjang dia memang boleh tahu suatu permasalahan. Ujung-ujungnya, Karin akan kami minta pertimbangan bila itu memang dirasa perlu untuk kami ketika harus memutuskan sesuatu demi kebaikan keluarga ini.
Kehadiran Karin dan adiknya sangat mewarnai hari-hari saya. Merekalah sumber cahaya kehidupan buat saya. Ketika semangat ini hampir padam terhantam berbagai masalah kehidupan, sinar mata kedua putri saya segera menyalakan kembali pelita saya yang hampir kolaps. Mak byarrr...! Oh, iya, masih ada dua buah cinta itu...




Kembali ke Karin sang pembayun, kata orang dia adalah copas saya. Garis wajahnya banyak menurun dari saya, Ibunya. Ketika masih bayi merah, orang sudah ribut berkomentar " persis kamu ya, Yik...". Ketika dia beranjak besar kata orang, " Karin itu Ayik banget..."
Dalam hal sifat, Karin banyak mengambil dari saya (baik yang baik2 maupun yang buruk2...waaaa....). Maka, ketika Karin melakukan sesuatu yang membuat saya tidak berkenan, ngomel-nomel kadang-kadang tapi saya akan segara mengurut dada dan intropeksi,...sapa dulu ibunya.... Tapi, namanya juga anak Bapaknya, Karin juga menurun sifat dan gen fisik Bapaknya, tentu saja-kan dia sponsornya-wakakak....Tapi, apa ya ? O ya, balungannya yang gedhe, adalah balungan Bapaknya (padahal Ibunya juga...qiqiqi). Halah...kok ya dicari-cari.




Begitulah, Karin kadang-kadang konyol (seperti saya), iseng juga (seperti saya), tidak tanggap (kayak saya), suka ngocol tapi garing (saya banget), tapi dia anak manis (iya, ini saya banget dahhh...tenan kiii...), gampang tersentuh...(sungguh, saya juga begitu), suka tantangan dan mencoba hal baru tapi kalau sudah mentok suka nglokro...( aku banget)...
Karin dan saya seperti ada chemistry (ya iyalahhh...secara Ibu dan anak), tanpa perlu diomongkan, apa yang saya rasakan ,dirasakan pula olehnya dan sebaliknya. Maka kami bisa tiba-tiba merasa sediiiih banget atau seneenggggg banget, barengan. Feeling kami benar-benar nyambung dan klop. Tidak heran, bukankah kami, Ibu dan anak yang pernah dihubungkan dengan seutas tali placenta....halaah....


Karin, pagi ini

Dan hari ini, Karin sudah 16 tahun. Kata pakdhe dan budhenya, sudah boleh pacaran...(emang sekarang belum boleh ? ). Kita bicarakan nanti saja ya, Karin. Satu tahun lagi sudah boleh membuat SIM. Seminggu belakangan ini, Karin sudah ngeyel minta dibuatin SIM tembakan seperti teman-temannya, tapi, proposal belum disetujui si Bapak. Harap bersabar, Karina.

Selamat ulang tahun, Karin, sahabat hati
Semoga Allah selalu memelukmu dalam cintaNya, seperti kami selalu mendekapmu diladang hati kami sepanjang waktu.
Jadilah perempuan seperti seharusnya perempuan, jadilah wanita selayaknya wanita. Jadilah kebanggaan untuk kita semua.
Jaga nama baik dan kehormatan diri dan keluarga besar kita.
Semoga panjang umur dan sehat selalu, berprestasi dan berhasil dikemudian hari.
Selamat ulang tahun, ananda, sahabat hatiku

Ibu cinta....

Rabu, 11 Maret 2009

Ide buat yang kampanye caleG




Ada banyak cara yang dilakukan oleh para caleg untuk berkampanye, guna menangguk perolehan suara mutlak supaya menjadi wakil rakyat. Tapi yang dilakukan oleh- mungkin simpatisan Pak Bibit Waluya yang sekarang bener-bener jadi gubernurnya jawa tengah ini - termasuk cerdas juga. Dia adalah pemilik SPBU eceran...qiqiqi...alias bakul bensin eceran dibelakang pasar jongke. Semua botol bensinya ditempel stiker foto sang cagub....
Untung saja sang calon jadi gubernur, kalau tidak...mungkin sang bakul akan mencopot semua stiker itu dari badan botolnya....

Kalau Pak Bbibit baca postingan ini sapa tahu akan ada dana stimulan khusus modal UMk buat simpatisan beliau...Who knows ?

Buat yang nyaleg, mungkin bisa jadi ide....


Minggu, 01 Maret 2009

Jika anakmu demam...


Pusaka tali pusar saya yang sudah tersimpan selama 43 tahun

Pusaka nya Karin

Pusaka saya dalam kemasan

Kumpulan pusaka kami bertiga


Apa yang kita lakukan bila putra-putri tercinta kita tiba-tiba diserang demam ? Demam, dalam artian badannya teraba panas atau dingin berkeringat. Hal ini sering membuat kita panik, sambil menduga-duga gerangan apa sebabnya.

Kata dokter, demam itu sendiri adalah sebuah gejala, bukan penyakit. Demam pada tubuh seseorang menandakan
bahwa sedang terjadi suatu masalah pada tubuh kita dan tubuh kita sedang mengatasinya. Demam sendiri merupakan mekanisme perlawanan tubuh kita terhadap infeksi virus atau bakteri.Suhu normal orang sehat adalah 36-38 derajat C, sedangkan orang dibilang demam bila suhu badannya terdeteksi lebih dari suhu normal. Perlu juga diketahui, demam itu tidak menular. Lalu, apa yang bisa kita lakukan bila anggota keluarga, terutama putra-putri kita demam ?

Nah, kaluk Ibu saya punya cara sendiri untuk mengobati panas demam pada anak. Kata beliau, ini sudah terbukti turun temurun. Secara rasional apa yang Ibu saya lakukan ini memang susah dipertanggungjawabken. Tapi namanya juga Ibu saya yang selalu merasa ketika sudah sepuh pasti serba benar...Wis, pokoke nggak bisa dieyel dah....Menurut beliau, apa yang beliau lakukan untuk mengobati panas demam pada anak (terutama balita) ini sudah beliau praktekan sejak saya masih bayi...ya syudahlahhh....
Sebagai anak yang baik (yang sudah bisa bikin 2 anak pula) saya cuma bisa manggut-manggut bilang " Nggih Bu..." ketika Ibu saya berfatwa tentang suatu resep penurun panas cespleng (menurut beliau).
Saya mau cerita tentang obat turun panas versi Ibu saya yang menurut beliau adalah mandi (manjur) dan diyakini hingga saat ini. Jadi, kalau balita saya (ketika itu) diserang demam panas, entah memang karena gejala flu, atau mau numbuh giginya, pasti Ibu saya dengan cekatan akan membuka "pusaka" keluarga yang berupa.....potongan puser bayi yang telah beliau simpan dan rawat dengan baik...potongan puser itu direndam diair matang, kemudian air rendaman dikompreskan pada dahi bayi Karin atau Aizs. Kemudian Ibu juga akan membuat parutan bawang merah dicampur minyak telon untuk diblonyohkan kesekujur badan bayi saya....(Nah, kalau yang terakhir ini sih memang sudah saya buktiken)
Manjurkah resep YangTi ini ? Alhamdulillah, demam panas memang segera turun...Tapi, menurut saya sih bukan karena rendaman puser itu, tapi ya karena begitu teraba demam pada badan bayi saya sudah bergegas membawanya periksa ke dokter...Tentu saja, obat dan penanganan dokterlah yang membuat bayi saya sembuh dari demamnya.
Lha resep YangTinya ? itu kan sugesti saja, saya kira. Lucunya, bila demam bayi saya sirep (turun), maka YangTi dengan yakin akan ngendika..." Lhah, sembuh kan ? "...Ya iyalah.....wong diobati..., kata hati saya.

Wekekek, Ibu saya memang istimewa. Mungkin tak semua Ibu punya pusaka keluarga seperti yang Ibu saya punya. Buat saya ini adalah memorabilia dan bukti kasih sayang seorang Ibu-seorang YangTi kepada saya putrinya dan Karin - Aizs cucunya...
Bahkan, masih ada beberapa memorabilia lagi yang masih beliau simpan dan dirawat dengan baik, yaitu potongan rambut saya ketika pertama kali saya digundul ketika bayi, lengkap dengan riwayat dan tanggal kapan pertama kali potong rambut. Juga potongan kuku bayi saya (yang disimpan dalam wadah merah seperti jimat )...lihatlah gambar dibawah ini ...


Jimat yang lain, potongan rambut dan potongan kuku saya ketika bayi

Juga, kartu periksa sejak Ibu saya hamil hingga melahirkan saya, masih terawat dengan baik. Trus masih ada juga kartu kontrol ketika saya bayi yang memuat perkembangan kesehatan saya hingga saya berumur 3 tahun. Kalau sekarang ya macam KMS itu lho...Huebat ya Ibunda saya ?
Kalau saya, boro-boro ngrawati hal yang menurut saya nggak penting begitu, lha wong setiap kali mau periksakan bayi saya pasti harus ada acara kalang kabut mencari kartu periksa....ealaaah........

Lha, kok cerita demam jadi nggladrah ke memorabilia YangTi....

Oke, kembali kecara mennangani demam pada anak yang ingin saya share kan dengan kawan-kawan. Sebenarnya ada cara menangani penderita demam tanpa obat-obatan, yaitu : Kalau anak kita masih mau makan-minum dan main, artinya tak perlu terlalu khawatir. Demamnya masih wajar, dengan beristirahat seperlunya kemungkinan demamnya akan turun. Kalau harus minum obat-obatan, konsultasiken pada dokter keluarga (jangan kedukun yaa...). Belilah obat penurun panas yang dijual bebas tapi dengan pengawasan (kamsudnya ?). Atau kalau anda cucok, bisa juga dicoba beberapa obat alternatif untuk penderita demam yang saya dapat dari beberapa sumber yang pernah mencobanya dan berhasil, :

1. Kunyit (Curcuma longa)
Memiliki kandungan minyak atsiri, curcumin, turmeron dan zingiberen yang dapat bermanfaat sebagai antibakteri, antioksidan, dan antiinflamasi (anti-peradangan). Selain sebagai penurun panas, campuran ini juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Umumnya yang digunakan adalah rimpangnya; warnanya oranye.

Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi kunyit. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Tambahkan dengan perasan 1/2 buah jeruk nipis. Campur dengan 2 sdm madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3 bagian campuran madu dan kunyit ini, kemudian berikan 3 kali sehari.

2. Temulawak (Curcuma xanthorhiza Roxb.)
Penampilan temulawak menyerupai temu putih, hanya warna bunga dan rimpangnya berbeda. Bunga temulawak berwarna putih kuning atau kuning muda, sedangkan temu putih berwarna putih dengan tepi merah. Rimpang temulawak berwarna jingga kecokelatan, sedangkan rimpang bagian dalam temu putih berwarna kuning muda. Temulawak memiliki zat aktif germacrene, xanthorrhizol, alpha betha curcumena, dan lain-lain. Manfaatnya sebagai antiinflamasi (antiperandangan), antibiotik, serta meningkatkan produksi dan sekresi empedu. Temulawak sejak dahulu banyak digunakan sebagai obat penurun panas, merangsang nafsu makan, mengobati sakit kuning, diare, mag, perut kembung dan pegal-pegal.

Caranya :
Cuci bersih 10 gram rimpang temulawak. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Campur dengan 2 sdm madu bunga kapuk, aduk rata. Bagi menjadi 3 campuran madu dan temulawak, kemudian berikan 3 kali sehari.

3. Bawang merah (Allium cepa L.)
Bawang merah sering digunakan sebagai bumbu dapur. Memiliki kandungan minyak atsiri, sikloaliin, metilaliin, kaemferol, kuersetin, dan floroglusin.

Caranya:
Kupas 5 butir bawang merah. Parut kasar dan tambahkan dengan minyak kelapa secukupnya, lalu balurkan ke ubun-ubun dan seluruh tubuh.

4. Daun kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis) Selain daun kembang sepatu, Anda juga dapat memanfaatkan daun kapuk atau daun sirih. Kembang sepatu mengandung flavonoida, saponin dan polifenol. Daun kapuk mengandung flavonoida, saponin dan tanin. Daun sirih mengandung flavonoida, saponin, polifenol, dan minyak atsiri.

Caranya: Cuci bersih daunnya, keringkan dengan lap bersih, panaskan sebentar di atas api agar lemas. Remas-remas sehingga lemas, olesi dengan minyak kelapa, kompreskan pada perut dan kepala.

5. Air kelapa muda

Air kelapa muda banyak mengandung mineral, antara lain kalium. Pada saat panas, tubuh akan mengeluarkan banyak keringat untuk menurunkan suhu tubuh. Nah, untuk menggantikan keringat yang keluar, perbanyaklah minum air kelapa.

mangga, silahken dipraktekkan pada putra-putri, keponakan atau cucunda tercinta...

Punya resep tradisional yang lain untuk menurunkan panas demam pada anak ?


Senin, 23 Februari 2009

aku berbohong





Aku berbohong jika kukatakan aku tak membutuhkanmu
Aku berbohong kala kau merasa aku menjauhimu
Aku berbohong ketika kubiarkan kau pergi dariku
Aku berbohong ketika kujawab "tidak" untuk pertanyaan, "apakah kamu sedang cemburu?"
Aku berbohong kepadamu ketika kau datang dan aku bilang " aku lagi ingin sendiri,sekarang !"
Aku berbohong, sembari mengusap air mata ini dibalik punggungmu
Mungkin aku sedang berbohong ketika aku bilang, aku tak lagi cinta padamu
Aku jelas sedang tak jujur kala aku bilang aku tak butuh hadirmu

Sekarang, masih bisakah aku jujur...
bahwa, aku sungguh mencintaimu,
aku takut kehilangan kamu
aku masih ingin memaafkanmu setelah semua yang terjadi, kemarin...

(tapi kamu sudah terlanjur terluka, dan pergi....)


Senin, 16 Februari 2009

Saya, puisi dan puisi saya




Beberapa kali saya mengunggah sebuah puisi dalam blog ini, selalu ada yang nanya " Mbak, ada apa ini ? ", bahkan Ernut pernah sms saya berkaitan dengan sebuah puisi yang saya unggah, " horok Yik, kowe ngapa ?"
Mungkin saya memang terkesan celelekan, cekikikan, pergemblungan dan imaje aneh lain. Tapi entah kenapa dibalik saya yang aneh ini ternyata masih ada sisi lain yang membuat saya sepertinya menjadi merasa asing pada diri saya sendiri. Aneh ya ? Apalagi kalau sudah berhubungan dengan yang namanya puisi. Terlepas dari entah apa definisi tentang sebuah puisi itu. Buat saya, sebuah puisi bukan hanya sekedar untaian kata penuh melo drama. Bisa tentang sebuah rasa suka cita, duka bahkan rasa yang kadang tak terdeteksi apa namanya.
Membuat puisi bukan hal yang mudah buat saya. Padahal duluuuuu...ketika saya masih muda (baca remaja), rasanya membuat puisi itu gampang sekali, apalagi ketika saya lagi merasakan yang namanya ceblok dhemen (jatuh cinta), juga ketika patah hati, atau ketika merasakan haru biru karena peristiwa tertentu. Puisi-puisi ( karena cinta dan kecewa) mengalir begitu rancak dari lubuk hati yang terdalam. Halaah....Dan puisi-puisi itu bisa tergores dimedia apa saja, bisa diselembar kertas tissue, kertas ulangan, surat cinta, diktat kuliah atau dibalik secarik karcis bioskop yang baru saja saya tonton bersama sidia...qiqiqi....

Tapi kini, ketika otak (dan hati) tuwir ini sudah jenuh dan sesak terjejali aneka problema hidup yang tak mudah dislemur, eh...kok naluri berpuisi tiba-tiba mati....
Makanya suka terheran-heran sendiri ketika mak bedunduk ada sebuah rangkaian kalimat yang saya unggah diblog ini yang menurut saya tak pantas disebut puisi tiba-tiba menuai apresiasi, meskipun sekedar koment bernada simpati tentang perasaan hari ini terkait dengan diunggahnya sebuah puisi...

Ah, buat saya, hidup ini adalah puisi tak pernah henti...

(jadi ingat jargon TA TV, tradisi tak pernah henti....qiqiqi...)


Sabtu, 14 Februari 2009

barangkali



barangkali benar ada yang runtuh

di sini, hari ini

terasa menyakitkan, dan luka yang menganga

barangkali benar tak perlu ditangisi

ketika bersama almanak

dia jatuh, satu. satu

dan itu adalah hatiku

barangkali benar,

ya, barangkali benar

: yang namanya barangkali, selamanya tidak akan pasti


Rabu, 11 Februari 2009

jalan jalan modal nekat


Nun 3 hari ini Karin si pembarep libur sekolahnya, konon karena di sekolah ada ujicoba UAS untuk murid kelas XII. Di hari kedua liburnya Karin menagih janji untuk jalan-jalan kesebuah tempat yang namanya Perkebunan Teh Kemuning. Hwokeh sajah, sebagai Ibu yang manis dan tak suka berbohong (Insya Allah), saya penuhi janji saya pada Karina. Lalu kita berduapun meluncur berboncengan kearah timur. Tempat yang kami tuju ini letaknya kira-kira 29 km dari dalem Badran. Terletak di kecamatan Ngargoyoso, sebuah kecamatan dilereng barat Gunung Lawu. Perjalanan kami tempuh tak sampai 30 menit, itupun karena si MX saya pacu dengan santai sajah, tak perlu ngebut, hari masih pagi, masih banyak waktu.

Medan yang terjal dan berliku membuat perjalanan kami tak menjemukan, melewati perkampungan penduduk yang kini menjadi OKB sebagai petani anthurium alias si emas hijau, melalui pemandangan alam yang mempesona...indah banget dah...

Dan, lihatlah, hamparan perkebunan teh bagaikan permadani alam yang maha indah...


Subhanallah, indah sekali pemandangan yang tersaji didepan mata kami. Sejauh mata memandang tersaji hamparan hijau kebun teh. Bentuk bukitnya mirip piramida. Jangan pernah menyangsikan siapa "pelukis" pemandangan hijau nan indah ini.

Sayang pagi ini kabut masih tebal menyelimuti. Saya lirik jam tangan saya, jam 08.30, tapi bekas embun dipucuk teh belum juga mengering. Hawa dingin pegunungan memberi nuansa segar didada....halahhh...

bahkan Karin pun bisa merasakan sensasi brrrrrr.......angin gunung yang basah menerpa=nerpa wajah manisnya...


Lihat, perdu teh inilah terhampar menjadi permadani hijau diperbukitan kemuning, menjelma menjadi sebuah lukisan alam yang indah....
dan ini adalah bunga dari pohon teh itu, nyepruk, kuning, menggoda

Kami juga menyaksikan geliat para pekerja pemetik pucuk daun teh yang tengah menyetor hasil petikannya kepada mandor dari pabrik teh PT. Rumpun Sari kemuning.

Sudah tanggung ketika kami berniat pulang, tiba-tiba saya terniat untuk sekalian saja mengunjungi Candi Ceto.Letaknya tak lebih dari 3 km dari perbukitan teh kemuning ini. Hanya saja medannya yang menanjak tinggi dan curam membuat saya dan Karin agak ragu-ragu. Naik-nggak-naik-nggak, akhirnya, sebagai Ibu yang nekatan saya memutuskan untuk naik sajah...

Melihat jalanan dengan sudut kemiringan hampir 45 derajat membuat saya makin ngeper, apalagi ketika menengok kearah kiri...ya amplop...ituh jurang curam banget. Saya makin ayub-ayuben, mungkin saya takut akan ketinggian juga, dengan menahan pusing kepala (diampet supaya Karin nggak makin takut) saya pun memfokuskan pandangan mata saya hanya pada aspal dijalanan didepan saya.

Dari pinggir jalan saya sempatkan berhenti sebentar menikmati view ini, ;

Insert (dalam lingkaran) terlihat air terjun indah dari kejauhan...

Sambil berdoa berharap selamat sampai ditujuan, saya cubak menikmati pemandangan yang terhampar (padahal saya singunen lho...). Jalanan beraspal yang curam, sebelah kiri adalah lembah jurang yang curam. Menurut saya sungguh sangar dan mengerikan. Tapi begitu melihat nun dikejauhan seperti menyaksikan sajadah hijau yang membentang luas, Subhanallah, seketika hilang rasa takut itu. Tapi, dasar saya, ketika Karin dengan ceriwis sibuk berkomentar, saya suruh dia diam, takut menggangu konsentrasi Ibu ngojek inih...qiqiqi...

Kabut tebal masih menghalangi jarak pandang mata saya, juga jalanan terjal membuat saya harus ekstra hati-hati kalau nggak pengin ngglondor...qiqiqi...Menjelang 100 meter dari area parkir Candi Ceto sengaja saya kerjain Karin untuk turun dari boncengan dengan alasan motornya nggak kuat lagi, Karin pun dengan menggeh-menggeh terpaksa berjalan kaki menaiki jalan aspal yang terjal dan curam..qiqiqi....kena' deh kamu !

Dan, akhirnya sampai juga kami di pelataran candi Ceto ini.


Lihatlah, Karin yang gembira ketika akhirnya kesampaian juga menjejakkan kakinya dipelataran Candi Ceto ini...



Juga Ibunya yang manis, sambil menggeh-menggeh, sedang menikmati buah dari kenekatan kami berdua...


Yippi...yippi...yee....., serasa dibelahan dunia yang berbeda...Serasa mimpi ya,Bu...kata Karin...( iya, mimpi, secara , kita dua perempuan ibu dan anak yang modal nekat)


Dan, ini adalah relief Lingga dan Yoni...


Patung ini ikon nya Candi Ceto


Pelataran Candi dilihat dari arah puncak Candi Ceto
Karin....puas ?

Silhuet gapura Candi Ceto dibalik kabut tebal


View perbukitan kebun teh dari pelataran Candi ceto

Nah, disini saya menemukan kejutan yang manis. Ada sebuah pondok wisata yang namanya persis banget sama blog inih...qiqiqi...kebetulan yang menyenangkan, bukan. Semoga pondok ini bukan pondok "krusek" yah....

Dan kawans, berhubung saya sudah mengeh-menggeh juga karena kecapekan menaiki undakan candi Ceto ini, maka kepada teman-teman saya persilahken mampir kerumah om Wiki saja guna mendapat keterangan selengkapanya mengenai hal dan riwayat Candi Ceto ini...Puas kan ? Paduneee...yang punya blog males ndongeng...qiqiqi...



Selasa, 10 Februari 2009

I b u


Sejauh aku masih bisa mengingat, ada sepasang tangan lembut yang selalu mengusap kepalaku dengan penuh kasih sayang menjelang waktu tidurku, menepuk-nepuk bokongku, sambil menyendandungkan lagu nina bobo'.
Tangan itu pula yang menuntun jemari kecilku dihari pertama aku masuk Taman Kanak Kanak.Menungguku dibalik pintu kelas dan siap muncul sewaktu-waktu kala aku mencari sosoknya. Tangan itu pula yang lihai menyulap sehelai kain menjadi baju lebaranku yang cantik, yang membuat iri teman-temanku. Jemari tirusnya trampil membuatkan aku jamu (dan setengah memaksaku untuk meminumnya) ketika aku mendapat mens pertamaku. Dia mendampingiku ketika aku berjuang melawan maut menghadirkan kedua buah hatiku.Dan selalu siaga turut terjaga ketika Karin dan Aizs kecil memerlukan bantuannya.


Tangan itu pula yang hingga hari ini masih lincah menjahit dan menyulam,membuat pernak-pernik penghias rumah kami yang bersahaja. Tangan tua itu masih rajin menyabit rumput disekitaran dalemBadran, membersihkannya dari segala kotoran penggangu kenyamanan. Bahkan kedua kaki tua itu masih lincah menaiki sebatang tangga untuk menebang dahan pohon mangga didepan rumah...


Ibuku, seorang perempuan perkasa. Perempuan yang istimewa. Dibalik kesahajaan dan keluguannya menyimpan begitu banyak cinta. Meski kadang kami tak sejalan, tapi aku bisa merasakan, cinta Ibu tak habis-habisnya untuk aku, putrinya...

Ibuku,orang tua satu-satunya yang aku miliki sepeninggal Bapakku. Hingga hari ini tetap setia mendamping hidupku yang berliku. Selalu mengingatkan aku bila aku keliru. Menyemangati bila aku tak bernafsu mengarungi ujian hidupku.

Ibuku, hari ini 64 tahun usiamu.
Semoga Allah memberikan kesehatan lahir dan bathin kepadamu,senantiasa.

Semoga Allah masih memberikan aku kesempatan untuk menunjukkan dharma bhakti sebagai putri tunggalmu.

Ibu, sugeng tanggap warsa.


Senin, 09 Februari 2009

weekend seru bersama FF

serunya yang bercandaan sambil jualan...



ekspresi dinamis para wanita muda itu...



Anis, Niken, Ratih, Ayik, Amik, Anik, Dian


Jadi, akhir minggu kemaren diwarnai oleh sebuah kopdar bersama teman-teman milis Femina n' friends , itu sebuah milis yang anggotanya pembaca majalah femina. Kopdar ini sesungguhnya adalah yang kedua yang diselenggarakan komunitas FF solo, tapi baru yang sekarang saya bisa bergabung. Kita yang biasanya cuma ketemu di dunia maya, akhirnya dipertemukan di dunia nyata, di Kafe Prijaji Keprabon atawa BlonjoKue , milik salah satu anggota milis ini yang namanya Jeng Anis.

Seneng dan seru, ketemu dengan teman2 yang masih muda-muda ini...secara, saya adalah yang paling tuwir lho....(tapi, Insya Allah kaluk soal semangat ya nggak kalah dari yang muda2...teuteup narsis...). Jadilah kopdar kali ini rame abis, becandaan terus sampe abis waktu, dan seperti biasanya kaluk yang namanya para perempuan ketemu apalagi yang dilakukan selain...ngrumpi ngalor ngidul, sharing berbagi info dan...qiqiqi...teuteup...jualan dagangan masing2...Bagus !

Buat Mbak Dian Priyono, Jeng Anik, Jeng Amik, Jeng Anis, Jeng Ratih dan Jeng Niken dan Jeng Alvina yang datang bersama sikecil Oris, terima kasih sudah mewarnai akhir minggu aku, kemaren...So sweet...


Jumat, 06 Februari 2009

lagi belajar sulam pita...




Sering saya merasa belum menjadi perempuan sebagaimana seharusnya perempuan. Maksud saya perempuan sebagaimana selayaknya perempuan...bingung ta ? wong saya sendiri juga bingung kok....


Jadi, kamsud saya adalah ketika seorang perempuan seringkali dituntut ( halah...) untuk menjadi wanita seutuhnya, yang bisa masak, momong, dandan dsb...eh, lha kok saya ini merasa belum bisa seperti itu...Lagipula, sapa pula yang menuntut saya untuk itu ? Nggak ada sih..., itu mah cuma keinginan terpendam dihati saya tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya. Harus pinter masak (saya cuma bisa masak, seadanya), pinter momong (saya cuma bisa momong sajah), pinter dandan (saya nggak bisa dandan...piye to ikiik...?). Plus, kalu bisa punya nilai plus seperti bisa menjahit, menyulam, membuat kerajian tangan. Tujuannya ya buat mempercantik rumah dan disawang-sawang sendiri , syukur-syukur bisa dijual....qiqiqi...

Well, sebenarnya saya ini suka sekali mencoba hal-hal baru seperti membuat sesuatu. Saya pernah mencoba bikin aksesori dari aneka batuan dan manik-manik seperti yang ini. Atau kaluk lagi kumat rajin nya ( rajin kok kumatan...) saya bisa juga tiba-tiba otak-atik sesuatu menjadi sesuatu yang baru seperti yang ini. Atau bikin sesuatu untuk koleksi sendiri seperti ini dan itu . Atau tiba-tiba mak bedunduk saya ini kumat kreatipnya seperti saat ituh. Tapi, yah itulah saya, cuma modal kepengin bisa...tapi tak pernah telaten untuk belajar lagi dan mudah bosan kalau yang saya buat ini nggak kunjung jadi sesuatu.....qiqiqi...sifat jelek yang ini jangan ditiru yah...

Beda banget sama YangTi, Ibunda saya. Beliau itu telaten sekali perihal ketrampilan tangan yang berbau perempuan. Sayangnya, ketrampilan yang beliau punya itu kok ya tidak diturunken kepada saya putri semata wayangnya. Saya blash tidak bisa dan tak trampil menjahit, entah kenapa...mungkin karena saya tidak telaten dengan pernak-pernik kecil jahit-menjahit yang menurut saya ribet ini...kecuali kalau terpaksa harus menisik baju atau celana suami dan anak yang robek-robek dikit, bolehlah. Selebihnya, serahkan saja kepada ahlinya...

Dan...sayangnya juga, saya paling males kalau disuruh belajar menjahit...qiqiqi...Ibu sampai geleng-geleng kepala tuh...

Namun, entah angin apa yang hari ini membawa saya datang ke seorang tetangga untuk minta diajari membuat sulam pita...saya sendiri tak tahu, angin apa ini....(Ibu Ismono, terima kasih yaa....)
Hari itu saya bergegas belanja bahan ditoko alat jahit untuk membeli beberapa bahan yang diperluken untuk membuat sebuah tas...hehehe...siasat bagus sebelum kumat lagi malesnya...

Maka dimulailah proses pembelajarannya...dilanjutken mempraktekkan apa yang sudah diajarkan, ditemani panduan dari buku yang saya beli kemaren...dan inilah hasilnya...


bahan-bahannya....

prosesnya....

hasilnya..., setelah dibantu finishingnya oleh Ibunda tercinta....


Tak terlalu menguciwaken...


Rabu, 04 Februari 2009

Sapta tirta Pablengan

Jika Anda berniat mengunjungi makam seorang pesohor negeri ini yang kini pusaranya menjadi "jujugan" dan obyek wisata ziarah di Karanganyar, sudah to the point saja, maksud saya makam Pak Harto dan ibu Tien di astana Giribangun Matesih, yang letaknya kurang lebih 20 km dari Dalem Badran. Pastiken Anda juga mampir ke Sapta Tirta Pablengan. Letaknya tak jauh dari sang astana, ditepi jalan raya Karangpandan - Giribangun. Buat saya tak terlalu istimewa, hanya sejuk hawa gunung Lawu dan pemandangan hutan pinuslah yang membuat saya tertarik mampir ke sini. Letaknya tepat di kaki dua bukit berhutan pinus, warga setempat menyebutnya Argo (gunung) Kailoso dan Argo Lampus. Yang membuat saya tertarik adalah adanya tujuh mata air yang ada di kompleks tersebut. Itulah sebabnya objek wisata yang dikelola Pemerintah Kabupaten Karanganyar itu disebut Sapta Tirta yang berarti tujuh mata air. Mata air yang tergolong kecil dan letaknya berdekatan ini masing-masing memiliki karakter, rasa dan kandungan mineral yang berbeda-beda. Subhanallah....sungguh fenomena alam yang luar biasa, menurut saya. Tapi bagi yang tahu hil yang mustahal mengenai ilmu vulkanologi, ini adalah fenomena alam yang biasa sajah....Ya, sudahlah...yang penting, saya hanya ingin berbagi sajalah...

Dan inilah ketujuh sumber mata air itu :


1. air bleng . Pernah dengar nama bleng ? bleng adalah bahan untuk campuran pembuat kerupuk nasi (karak). Sumber air ini tampak keruh namun tidak pernah surut meskipun datangnya kemarau panjang. Nah, air di sumur ini sering digunakan penduduk setempat sebagai bahan baku pembuatan karak atau kerupuk.


2. air hangat ,mata air yang ini jelas mengandung belerang Air Hangat yang mengandung belerang ini bisa digunakan untuk mengobati gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. Jadi gatal-gatal, panuan , kudis kurap, silahken dibuktikan sendiri. Nampak tumpukan dan sampiran baju-baju seseorang yang lagi pengin membuktiken khasiat sumber air hangat ini, yang jelas bukan saya lho ya....Tenan ikii...

3. air hidup,sumber airnya terus bergolak dan konon berkhasiat menambah kecantikan. Mau buktinya ? coba tanyakan pada Luna Maya...


4. air soda yang rasanya memang seperti soda. Tapi sayang saya malah belum mencicipinya...


5. air urus-urus, yang konon dapat digunakan sebagai obat pencahar. Dulcolax, Laxing, lewat deeh....katanya ! Yang pengin langsing, mungkin bisa coba rajin-rajin mengkonsumsi air urus-urus ini...Bila sakit berlanjut, hubungi Ernut yaa....




6. air kasekten yang konon bertuah bagi siapa saja yang ingin menambah ketebalan kulit dan nyali untuk berperang. Katanya juru kuncinya lhooo....



7.air mati, yang debitnya tidak pernah berkurang atau bertambah.Saya saranken dengan serius untuk jangan pernah mencoba minum air dari sumber Air Mati ini, karena konon katanya mengandung gas karbondioksida yang beracun.


Pablengan dulunya adalah tempat untuk tetirah putra-putri Mangkunegoro I – VI yang memang berkuasa di seluruh wilayah Kabupaten Karanganyar. Sampai sekarang, di antara pengunjung selalu ada yang datang dengan alasan spiritual tertentu. Nah, kawasan Matesih ini juga dikenal sebagai sentra penghasil durian yang enak dan sekarang lagi musimnya. Di dekat-dekat kawasan itu, hampir setiap rumah warga menjual durian dengan harga Rp 15.000 – Rp 35.000 tergantung kualitas dan ukuran.


kandungan belerang yang tinggi mengakibatkan air diselokan ini seperti berkerak kekuningan.. latar belakang panorama perbukitan, indah dan sejuk...




Minggu, 01 Februari 2009

Yang ketemu di Pasar Tanah Abang





es selendang mayang itu....


Komponennya terdiri dari beberapa iris lapis tepung beras, santan dan syrup gula jawa


si mamang penjualnya asli dari Garut...



Muter-muter di tanah abang
Ketemu yang seger-seger, ehhh...es selendang mayang

Masih oleh-oleh dari ibukota, secara tidak setiap bisa sering-sering menjelajah Jakarta, maka kesempatan untuk jalan-jalan tentu saya gunakan semaksimalnya...Kali ini, saya menuju kompleks perbelanjaan Pasar Tanah Abang, yang baru sekali-sekalinya ini saya kunjung...Naluri norak saya langsung kumat serta merta melihat dagangan di Blok A Pasar Tanah Abang ini,bagaimana tidak mabuk, barang-barang disini memang harganya lumayan terjangkau. Wah, ini memang surga belanja, rupanya.

Dilokasi tak jauh dari Blok A ini ada sebuah area penjualan yang sering disebutnya sebagai Pasar Tasik, karena mayoritas penjualnya berasal dari Tasikmalaya, Jabar. Waaa....mata saya langsung hijau melihat aneka kerudung dan perlengkapan muslim murmer ditebar disana..Memang harga yang dijual disini baik grosir maupun eceran benar2 miring...surga belanja lagi nehh...Cuba deh, belum lagi 2 jam disini sudah ketemu dua surga (belanja)...qiqiqi...bagimana cubak kalau ketemu surga benerannya...qiqiqi....
Yang norak lagi, saya tiba-tiba merasa seneng ketika setiap melewati gerai itu disapa dengan panggilan " Bu Hajii...", qiqiqi....diam-diam membatin saya lafalkan kata " Amin..., semoga saya bisa jadi haji beneran..."

Nah, di emperan Pasar Tanah Abang ini saya ketemu dengan yang jualan Es Selendang Mayang, langsung deh saya hentikan petualangan sejenak untuk mencicipi ragam kuliner tradisional betawi yang (juga) baru kali ini saya temui. Es selendang mayang ini rupanya terdiri dari kue lapis dari tepung beras yang warna warninya moronyoi - hijau-putih-jambon-coklat, dipadu dengan santan kental dan juruh (syrup gula jawa) yang dicemplungi irisan nangka dan disajikan dengan es batu yang bikin seger dan ngiler...Rasanya sih nggak jauh-jauh dari es dawet yang biasa saya temukan di daerah lain...Tapi karena ini es Selendang Mayang yang baru sekali ini saya incip dan nemunya jauh dari rumah, secara di tanah betawi...makanya rasanyapun beda-beda gimana getuh....

Si Mamang mengangsurkan sebuah bangku plastik sembari menyapa ramah, " mangga , calik atuh Bu Haji". Dan saya dengan PD bilang " Suwun ( lha kok Jawa ? ) " sembari duduk...
BTW, " Mangga calik " artinya disuruh duduk kan ?