Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

es gandul nan jadoel...


es gandul itu....

Es batunya digosrok....




Trus dipadatkan dengan dua tutup gelas plastik sajah..., lalu dilumuri syrup...Sudah!


(ayik's post)

Es gandul tali merang,
awakmu njedhul atiku girang....

Alkisah, satu hari lewat di depan DalemBadran sibapak penjual es ini....es gandul....Waaa...ini kan jajanan saya waktu SD duluu...kok masih ada....


Langsung saya cegat sibapak penjualnya dan saya order es gandulnya, rupa-rupanya saya kangen dengan ragam jajanan jaman cilikan saya yang sekarang pasti sudah menjadi benda yang langka....

Es gandul ini dibuatnya cukup sederhana, simpel, bersahaja dan guampiiing....secara, cuma segenggam es batu yang dipasah atawa digosrok yang dicetak menngunakan tutup gelas plastik sajah, dipadatkan dengan tutup gelas satu lagi ,lalu tengahnya disematkan stick bambu, selanjtnya dikocrotin (apa sih istilahnya...) ehhh ya...ditabur...salah yak ? di....siram dengan syrup berwarna menyala.....maka jadilah es gandul yang kita kenal itu....Begitcuu.....

Slurrrp....segernya....manisnya....

Bukan cuma segernya yang saya dapat......nostalgianya itu lho.......

(punya kenangan apa dengan es gandul ini ? , cerita doong...)


Rabu, 01 Juli 2009

Klewer suatu hari





Mana yang benar, belum ke Solo kalau belum ke Pasar Klewer atau belum Ke Pasar Klewer kalau belum ke Solo...ahhh...sama saja. Solo sudah identik dengan Pasar Klewer, juga Pasar klewer selalu merujuk pada kota Solo, apapun itu...
Grosir batik terbesar di negara ini, konon, adanya ya di Pasar klewer ini...kita bisa mendapatkan aneka model produk batik dari harga yang paling murmer sampai yang jut-jut an di pasar yang penampakannya makin hari makin kusam ini...Meskipun tak jauh dari pasar Klewer saat ini sudah ada pusat perbelanjaan grosir batik yang lebih nyaman ( BTC dan PGS), namun orang masih merasa belum afdol bila belum mengunjungi pasar Klewer ini...

Buat saya, Klewer selalu menjadi jujugan favorit bila saya ada waktu dan kepengin jalan-jalan. Entah sekedar melihat trend batik terbaru atau memang niat banget pengin belanja, Klewer selalu menjadi prioritas pertama untuk saya datangi. Bukan cuma harga-harganya yang miring kekanan ke kiri, karena kekhasan pedagang Klewer adalah menawarkan harga jualannya sedemikian rupa sehingga pembeli merasa nyaman dan puas bila berhasil menawarnya minimal 1/2 harga...hahaha...pinter banget bakul klewer ini emang...



mau cari harga batik yang berapa saja ada....mau yang murmer...mau yang mahalll...hayuuukkk... Yang penting, jangan lupa pandai-pandailah nego harga, nggak di gerai distributornya, nggak digerai pengecernya...Kalau kita bisa dapat harga minimal 50% nya saja kan efek puasnya...ruarrr biasaaa...


Hampir tak ada tempat sela di klewer kini...makin hari makin berjubel baik penjual maupun pembelinya, area tangga tak luput dari tempat menggelar lapak dagangan...wiss...sebenarnya dan sejujurnya, Klewer bukan tempat yang nyaman untuk berbelanja., gangnya tak seberapa lebar itupun sudah dijejali dengan penggelar lapak dikiri kanan jalan ( diluar gerai yang disediakan khusu untuk toko) , tanpa AC, tanpa fan..syumuuuk tenan.....tapi...apa boleh buat, suasana yang seperti inilah yang bahkan seringkali membuat kita malah "nyaman" mengecap rasa Klewer yang sebenarnya...



Selain batik dan batik juga grosir pakaian jadi, ada juga nyempil penjual aneka sanggul tradisional ini...Unik saja...hari gini, masih ada juga ya yang beli sanggul....Bagus!!!

Alasan lain kenapa saya suka banget suasana belanja di pasar Klewer adalah, disana kita bisa menemukan ragam kuliner yang khas solo banget..., jadi nggak usah jauh-jauh cari pedagangnya dengan keliling kota, cukup jalan aja di dalam Pasar klewer ini maka apapun yang kita mau akan kita dapatkan disana

misalnya thengkleng Klewer ini, ragam kuliner khas Solo yang bahan utamanya adalah tulang daripada hewan prengus yang namanya wedhus...hehehehe...kalau diolah dengan cara thengkleng ini wahhh...ditanggung, habis makan langsung mak theng...begitu....



Lha yang ini namanya brambang asem, daun ketela rambat (lung) dan kangkung yang direbus, kemudian dikucuri dengan saus sambel gula merah plus asem.Peneman setianya adalah gembus bacem.....Rasanya manis-pedhes...efeknya dilidah adalah...kemepyar sangking pedhesnya...


Lha kalau yang ini namanya es gempol pleret gempolnya terbuat dari tepung beras rasanya gurih...disajikan dalam kuah santan dan gula jawa...mmmm...segyer sumyah, kata ernut.


Badhalaah...yang ini namanya cabuk rambak. Citarasa nya tetep gurih kesukaan saya...paduan dari irisan ketupat yang disajikan bersama sambel cabuk putih dan potongan karak...

Kalau mau yang seger dan panas-panas, bakso klewer bisa jadi andalan juga....Lumayan enak juga...



Selain makanannya, Klewer juga menyimpan memori masa kecil saya dengan adanya seorang nenek-nenek sepuh yang tiap hari duduk manis di depan Toko Mas Ibukota...Mbah putri yang satu ini sangat saya kenal dengan teriakan melengkingnya......." nDorooo putriiiii......, nyuwun tumbasannn....", ahhh irama dan intonasinya tak berubah sedikitpun, tetap sama dengan yang selalu saya dengar ketika saya masih di bangku SD 17 Slompretan dulu...



Dan yang satu ini, adalah camilan favorit suami saya...namanya godril . Raranya gurih-gurih getir...enak kalau dinikmati sambil nonton tipi daripada kayak ayam tetangga...alias bengong aja...camilan enak ini mempunyai efek dahsyat kalau sampai kita buang angin setelah mengkonsumsinya...ditanggung aromanya bisa membubarkan acara debat capres dan cawapres...tenan kiii..


Dan yang ini adalah ragam pilihan oleh-oleh khas solo...ada brem, kripik cakar, ampyang, enting-enting, intip goreng...tinggal pilih....

Jadi kapan dong mau ke Pasar Klewer ? mumpung pasarnya belum kebakar. lhooo.....halaah...kok jadi ingat tragedi pasar-pasar lain yang musti kebakaran dulu sebelum direnovasi...qiqiqiqi...


Sabtu, 11 April 2009

ke Yunani


Tampilan Bakmi Kethorak di warung Yu Nani, Kartopuran



Waktu didalam perut ibunya, Aizs sudah sering incip bakmi kethoprak Yu Nani, alasannya sih ngidammm...padahal cuma pengin...qiqiqi

Ke Yunani ? Mungkin teman-teman pikir saya lama nggak posting karena sedang liburan jauh ke yunani.....qiqiqi...ya enggaklah (tapi kalau keturutun, ya syukurilah...). Bukan itu, kali ini saya cuma njajan ke sebuah warung yang dulu waktu saya masih kuliah bersama Ernut , Ika , Milut dan sohib Tatiet sering jadi jujugan. Jujugan ketika kita bolos ( tapi nggak sering2, kita kan mahasiswa baik dan tertib ya Nut ? *kedip4x*), jujugan ketika kita butuh makan siang yang berbeda dari yang kita dapat sehari-hari dikantin Mbak jum. Ya, kesinilah kita sering berkunjung. Namanya warung Yunani...eh Yu Nani. Menu utama andalan Yu Nani adalah Bakmi Kethoprak.
Kalau di betawi ada ketoprak yang menurut saya gak jauh beda dengan gado-gado yang aneka sayuran disiram kuah kacang itu, Bakmi Ketoprak khas Solo ini beda baget. Baik dalam hal rasa maupun penampakannya...
Bakmi Kethoprak Yu Nani ini komponennya adalah bihun, tahu-tempe goreng, sosis solo , kikil atau daging sapi plus tulang mudanya yang kriuk-semua diiris2 kecil dan diumbrukkan dipiring saji- lalu kacang tanah, daun sledri dan bawang goreng. Kucuri dengan kuah bumbu bakso, dan remukan karak diatasnya. Dimakan panyass-panyass dengan keceran (perasan) seiris jeruk nipis, kecap dan cuka juga irisan cabe rawit merah eiiit....jangan lupa segelas Es Degan gula jawa biar sempurna menu yang suegerr kiyer-kiyer.......Wuaahhh.......meledak rasanya.....qiqiqi...lebai amat yak ?
O ya, buat yang nggak puas dengan komponen standarnya boleh request isian lainnya, boleh tambah tulang mudanya atau sosis dagingnya...Harganya juga murce, perporsi palihan cuma Rp. 7.500, kalau mau porsi besar ya Rp. 10.000 an...

Nah. Warung Yu Nani ini letaknya di kampung Kartopuran. Mulai dibuka jam 11 siang, kalau lagi tidak beruntung, seringkali 3 jam sesudahnya dagangan warung ini sudah kukut alias abisss.... Kalau kita lagi beruntung, suka-suka ketemu seleb ibukota ataupun seleb lokal di warung ini, soalnya, ini warung sudah jadi referensi kuliner solo disamping sega liwet dan cabuk rambak yang terkenal itu...begetcuu........
Ayo, buat sohib gemblung Ernut-Tatiet dan Ika, kalian pasti kangen sama bakmi kethoprak Yu Nani ini....karena camilan pendamping diwarung ini juga nyam-nyam banget dah...ada timus, bakwan jagung, tempe goreng garing, sosis....lhoo.....lha kok nggladrah....
Buat sohib blogger yang saya yakin tidak gemblung, kalau ke solo, kuliner ini wajib dicoba...tenan ikii.......

Minggu, 01 Februari 2009

Yang ketemu di Pasar Tanah Abang





es selendang mayang itu....


Komponennya terdiri dari beberapa iris lapis tepung beras, santan dan syrup gula jawa


si mamang penjualnya asli dari Garut...



Muter-muter di tanah abang
Ketemu yang seger-seger, ehhh...es selendang mayang

Masih oleh-oleh dari ibukota, secara tidak setiap bisa sering-sering menjelajah Jakarta, maka kesempatan untuk jalan-jalan tentu saya gunakan semaksimalnya...Kali ini, saya menuju kompleks perbelanjaan Pasar Tanah Abang, yang baru sekali-sekalinya ini saya kunjung...Naluri norak saya langsung kumat serta merta melihat dagangan di Blok A Pasar Tanah Abang ini,bagaimana tidak mabuk, barang-barang disini memang harganya lumayan terjangkau. Wah, ini memang surga belanja, rupanya.

Dilokasi tak jauh dari Blok A ini ada sebuah area penjualan yang sering disebutnya sebagai Pasar Tasik, karena mayoritas penjualnya berasal dari Tasikmalaya, Jabar. Waaa....mata saya langsung hijau melihat aneka kerudung dan perlengkapan muslim murmer ditebar disana..Memang harga yang dijual disini baik grosir maupun eceran benar2 miring...surga belanja lagi nehh...Cuba deh, belum lagi 2 jam disini sudah ketemu dua surga (belanja)...qiqiqi...bagimana cubak kalau ketemu surga benerannya...qiqiqi....
Yang norak lagi, saya tiba-tiba merasa seneng ketika setiap melewati gerai itu disapa dengan panggilan " Bu Hajii...", qiqiqi....diam-diam membatin saya lafalkan kata " Amin..., semoga saya bisa jadi haji beneran..."

Nah, di emperan Pasar Tanah Abang ini saya ketemu dengan yang jualan Es Selendang Mayang, langsung deh saya hentikan petualangan sejenak untuk mencicipi ragam kuliner tradisional betawi yang (juga) baru kali ini saya temui. Es selendang mayang ini rupanya terdiri dari kue lapis dari tepung beras yang warna warninya moronyoi - hijau-putih-jambon-coklat, dipadu dengan santan kental dan juruh (syrup gula jawa) yang dicemplungi irisan nangka dan disajikan dengan es batu yang bikin seger dan ngiler...Rasanya sih nggak jauh-jauh dari es dawet yang biasa saya temukan di daerah lain...Tapi karena ini es Selendang Mayang yang baru sekali ini saya incip dan nemunya jauh dari rumah, secara di tanah betawi...makanya rasanyapun beda-beda gimana getuh....

Si Mamang mengangsurkan sebuah bangku plastik sembari menyapa ramah, " mangga , calik atuh Bu Haji". Dan saya dengan PD bilang " Suwun ( lha kok Jawa ? ) " sembari duduk...
BTW, " Mangga calik " artinya disuruh duduk kan ?



Selasa, 30 Desember 2008

aLL About pohunG

Ada kudapan juara di dalemBadran yang sering kali saya munculkan dalam aneka ragam bentuk camilan. Seringkali bila kedaan darurat, maksudnya kala isi dompet sudah menipis dan tak ada pilihan padahal harus menghadirkan jajanan untuk anak-anak maka saya selalu menuangkan kreativitas saya (halaah...paduneee....pengiritan...) dengan membuat kudapan dari bahan dasar pohung atau singkong atau cassava atawa ubi kayu.

Jelas saja harganya yang murce dan maregi (mengenyangkan) membuat saya sering memakai pohung ini untuk membuat suguhan2 peneman nonton tivi buat anak-anak dan teman-temannya. Pohon singkong ada banyak di sekitaran di dalemBadran ini, kaluk terpaksa tanpa harus membelipun kita bisa mendapatkannya dari galengan sawah tetangga ...dengan sebelumnya meminta ijin si empunya, tentu...kalak nggak minta ijin kan namanya nyolong dong, nggak barokah, malah bisa bikin perut mules dong...Ya iyalaah...masa ya iya dong!

Seperti hari ini, ketika teman2 SD Aizs pada datang berkumpul dan ngariung di gazebo dalemBadran. Saya buka kulkas, lha kok sudah gak ada lagi camilan bahkan tak ada buah-buahan disana. Blaik...masak anak-anak berkumpul dibiarkan menganggur...., mau pesen Pizza gak ada duit, mau beli donat kok jauh amat..., maka sebagai seorang preman dapur saya gerakkan tangan saya untuk sekedar membuat camilan bersahaja buat mereka. Maka saya parutlah pohung yang ada , sebagian diparut kasar sebagian lagi diparut halus. Saya campurkan gula jawa, gula pasir dan kelapa parut muda. Yang diparut kasar kemudian dikukus bersama irisan kasar gula merah dan daun pandan. Setelah matang dikukus, dihidangkan dengan kelapa muda parut .

Jadinya seperti ini lho...


Namanya sawut.....dari pohung yang mawut-mawut...

Lalu yang pohung diparut halus, ditambahkan parutan kelapa muda dan gula pasir. dibentuk bulat setelah diisi irisan gula jawa ditengahnya kemudian digoreng garing...Penampakannya seperti ini,

dan kami menyebutnya klenyem...., mak nyemmm...nymmmm. Lebih enak lagi kaluk dimakannya pas panyas...panyass...

Lha yang ini beda bentuk lagi, meskipun bahan dasarnya sama. Namanya Lentho, cara bikinnya tak jauh beda dengan klenyem, pohung pun di parut halus, kemudian dicampurkan dengan aneka bumbu gurih dan kacang tholo ( yang sebelumnya telah direndam dan direbus sebentar sampai empuk). Tak perlu cetakan khusus untuk membentuk sebuah lentho, karena cetakannya cukup memakai tangan kita yang mengenggam...Bila sudah tercetak, maka langkah akhirnya adalah digoreng diminyak panas sampai mateng. Rasa lentho ini gurih lho, karena bumbu yang dipakai adalah ulegan bawang putih plus kencur dan garam, enak dimakan dengan ceplusan cabe rawit....

Dan hasil akhirnya adalah seperti ini lho, teman...




BTW, sering kali di desa saya ada unen-unen " tak wenehi cithakan lentho lho yen kowe nakal...", maksudnya ya diantemiii......alias dikasih bogem mentah...qiqiqi....Nyambung tapi maksa yaa...?|

Jaman cilikan dulu yang sering diidentifikasikan sebagai jaman susah oleh ibu saya, singkong ini setiap hari hadir sebagai peneman hari-hari...setiap hari ketemu singkong dan singkong lagi hanya saja berubah bentuk dan rasa, kadang menjadi : gaplek, sega pohung, lepet, tape,blanggreng, sawut, klenyem, lentho...

Punya kenangan dengan ragam kuliner dari singkong ?

Eh, sekalian ya teman, sembari menikmati aneka kudapan dari singkong ini, saya ingin menyampaikan Selamat tahun baru 2009 buat semua sahabat setia Sekar Lawu dan Duo Emak...semoga tahun-tahun kedepan kita bisa menjadi lebih baik dan lebih baik lagi dalam segala hal...

Selamat datang 2009...


Selasa, 23 Desember 2008

Eh BuaS Kartopuran




komponen eh buas nya standar saja, tapi se standar namanya, standar pula rasanya...segerrr...sumyah....


Gerobak si bapak Eh Buas Kartopuran

Warung ini menjadi jujugan para ABg dan pelajar

Es buah ataupun juga sup buah, pasti sudah banyak teman yang mengenal dan menggemarinya...tapi kalau Eh Buas ?

Kemaren ketika mengantar anak les, saya lewat rute yang tidak biasa saya lewati, lha mak jegagik pandangan mata tertumbuk pada sebuah warung yang lumayan ramai pengunjungnya. Bukan karena warungnya ramai sehingga saya memutuskan untuk berhenti dan mampir, tapi karena judul warung ini rada-rada aneh menurut saya " Eh Buas Kartopuran", letaknya memang di pojokan lapangan Kartopuran.

Lha rak tenan taa..., memang benar dugaan saya, aneka jenis es segar mengandung buah disediakan sebagai menu utamanya, ditambah menu hangat-hangat macam bakso dan mie ayam sebagai pelengkap. Akhirnya buat tombo kecele' saya dan Karin memesan es buah ehhh...eh buas ini. Komponen eh buas ini standar saja, begitupun rasanya.

Nggak apa-apa, setidaknya mengobati rasa penasaran saya, kok menyebut nama warungnya seperti plesetan yang sering saya pakai kalau saya lagi ngobrol dengan si Nok Indri di subaraya sana. Sungguh strategi jitu untuk sebuah trik pemasaran, bikin dulu calon pembelinya penasaran, walau hanya dengan sekedar nama yang aneh...

Senin, 22 Desember 2008

Mundung aka Ceplusan




mundung aka ceplusan, menggoda iman...




Tampilan mundung setelah di ceplus...kecut asem manis dan seger...

Lhah , ini dia satu ragam buah yang sudah lama sekali nggak saya temui. Ketika hari minggu kemaren jalan ke pasar Jungke pandangan saya tertumbuk pada seumbruk buah yang bentuknya bulat-bulat sedang warnanya orange kekuningan, kesannya segar merona dan menggoda...qiqiqi...langsung saja saya sambar seonggok buah mundung ini...kangen jeee....
Bentuknya mirip-mirip buah duku, hanya saja kalau duku kan kulitnya lebih tebal, begitu pula daging buahnya berwarna putih kekuningan. Nhah, buah mundung ini kulitnya tipis, butirannya pun tak sebesar buah duku dan buah langsep. Daging buahnya berwarna merah jambu bening. Rasanya ? kombinasi manis - kecut asem dan segerr....Untuk ngrahapi buah mundung ini saya punya cara nikmat yang menurut saya asyik, yaitu dengan men 'ceplus' nya. Jadi tidak dikupas kulitnya seperti kita mengupas buah duku, tapi saya kremus sak kulit2nya, lalu kulitnya saya lepeh dan saya sisakan daging buah (plus bijinya, tentu) untuk saya telan... jangan lupa, sebelum menceplusnya hendaknya cuci bersih buah mundung ini dengan air mateng, bila perlu. Supaya hygienis,tentu.
Mungkin itu sebabnya buah mundung ini juga dikenal dengan nama ceplusan, karena cara makannya adalah dengan di ceplus alias di kremus...Paham ?

Dulu waktu masih kecil, sering Ibu membawakan oleh-oleh buah mundung ini dari pasar. Kini setelah jarang-jarang menemuinya di pasar, saya selalu kalap setiap melihat mundung dijajakan ...jadi, setiap ketemu bakulnya bisa dipastikan saya akan memborongnya untuk dijadikan kudhapan menyegarkan...tombo ngantukkk...

Harganya ? jangan ketawa ya...Rp 1.000,- per kilonya...murih teniiin...ta ?.


Sekarang ini saya masih punya satu ragam buah yang sangat saya kangeni, terakhir ketemu buah yang saya cari itu kira-kira 25 tahun yang lalu, namanya buah gowok, warna kulit tipisnya hitam keunguan tapi daging buahnya berwarna putih bersih, rasanya kecut seger juga....Kira-kira, teman2 tahu nggak dimana saya bisa mendapatkannya ?...Pengin niih....

Senin, 15 Desember 2008

Ingkung Sang Primadona

Nampak jelas Ingkung sang Primadona


Ingkung bersama kelengkapan tumpeng lainnya...


Pada hajatan mantenan Mbak Tea di Salaman Magelang kemaren saya ketemu lagi dengan sajian kuliner khas jowo yang bernama tumpeng komplit dengan ingkungnya. Sajen ingkung ini lazim disajikan dalam hajatan dan kendurian. Ingkung merujuk pada seekor ayam (biasanya berjenis kelamin jago) yang dimasak dengan bumbu tertentu, bisa bumbu kuning atau di bacem ungkep. Ayam jagonya disajikan utuh lengkap dari ujung ceker sampai ujung kepalanya, juga lengkap dengan jerohannya...dihidangkan dengan gaya mekungkungnya bersanding dengan kelengkapan tumpeng lainnya, bisa tumpeng nasi gurih/nasi liwet, atau nasi gudangan seperti gambar diatas.

Kenapa saya sebut sang Primadona, karena ketika ada sajen tumpeng sakuborampene, yang jadi inceran para hadirin yang ikut kondangan adalah ingkungnya...Setelah selesai di hamin-hamin, pasti ada yang ngincer endhasnya (kepala), ada yang pengin swiwi (sayap), ada juga yang tepong sak cakare, atau rempela atinya...wis ta, semua bagian dari ingkung ayam selalu menjadi yang duluan ludhes dibandingken uborampe tumpeng lainnya. Gak percaya ? ndhak pa-pa...wong itu hak Anda. Qiqiqi...

Biasanya, kalau saya ketemu ingkung, saya paling demen ngincim brutu (tunggir) nya....yang menurut Karin, selera makan yang tidak elegant...qiqiqi...E, lha anak ini belum tahu kalau brutu itu enak gurih dan kenyil-kenyil...

Tapi ada kepercayaan jaman saya masih kanak-kanakdulu, anak-anak nggak boleh makan brutu supaya tidak getun mburi (menyesal belakangan)...Pamali, katanya.
Ya iyalaah,getun pasti mburi dong...mana ada menyesal di depan ?

Waktu kecil dulu, ada makanan yang harus dipantang dengan alasan pamali nggak ?

Senin, 01 Desember 2008

es Thung-thung itu masih ada...





es krim "ndeso" rasa jeruk


gong kecil itu, suara thung-thung nya masih seperti dulu...nostalgia

Ahaa...disiang yang terik ini tiba-tiba ada suara merdu menggoda gendang telinga...bunyinya yang mak Thung..thung...thung...atau pung...pung..pung, pastinya mengoda Aizs untuk segera berteriak..."tumbass...Pak... !"

Apakah itu ? sebetulnya produk jualan si abang ini tidaklah istimewa, just es krim ndeso yang jaman saya kecil dulu lebih sering disebut sebagai es thung-thung atau es pung-pung, ini karena dibelakang gerobak penjualnya selalu digantungkan sebuah bende / gong mini yang kalau dipukul akan mengeluarkan bunyi merdu thung-thung...

Ditengah kemajuan jaman (konsumtif) ini yang mana ragam kudapan berbentuk es krim sudah semakin maju dengan aneka merk produk es krim, maka hadirnya es thung-thung produk jadoel ini pastilah menimbulkan rasa kepengin tahu saya. Apakah rasanya masih seperti waktu saya kecil dulu ? apakah variannya juga bertambah seperti varian es krim dengan merk paten yang mudah kita temui di warung-warung ?

Bedanya, dulu waktu saya masih kecil es krim ini disajikan dalam sebuah horn/cone yang crispy, kini disajikan dalam bentuk mangkuk kertas dan setang sendok kayu seperti es krim yang dijual di warung. O ya, saya masih ingat, dulu es krim macam begini disajikan juga di atas belahan seiris roti tawar yang gurih...mmmm...yummy...

Mengenai rasa ?, tentu saja, rasanya amat jauh dari bayangan rasa es krim produk pabrikan, apalagi kalau dibandingkan dengan es krim italiano dari cafe Ragussa...jauhhh banget...

Hanya saja yang saya herankan, kok masih ada ya yang jualan es begini di jaman kini, mengingat sudah bertahun-tahun saya tak menemui es thung-thung ini..., sungguh menyenangkan masih bisa mengenalkan Aizs pada ragam kuliner vintage seperti yang pernah dikonsumsi Bapak-Ibunya jaman cilikan dulu...Kalau tidak di tanah Karanganyar, pastinya sudah susah menemukannya...iya nggak ?

Belum habis rasa takjub karena menemukan kembali es thung-thung yang telah lama menghilang dari peredaran, ehh...lagi-lagi tersengar suara nyaring dari lonceng yang digeber abang penjualnya...ithing...ithing...ithing...apa lagi ?

Hwolooh...ternyata ada lagi penjual es yang lewat, kali ini dalam bentuk es loli...horok...lihatlah, wadah es loli ini masih termos es jadoel banget seperti jaman saya cilikan dulu....e'e'e'e....dan si Aizs cepat-cepat menganggukkan kepalanya ketika saya tawari " mau coba juga, Mbak? "...ya iyalahh...sapa sih yang nggak mau ditawarin jajan es loli hari gini, apapun bentuk dan rasanya...coba saja...qiqiqi..


es 'sunduk' alias es loli, es jadoel di jaman kini, perhatikan termosnya yang juga jadoel banget



warnanya moronyoi, mengundang selera...sehatkah ? walahualam...!

So, hari ini adalah hari yang penuh kejutan karena saya menemukan kembali ragam kudapan seperti yang selalu menjadi favorit ketika masih kuecil dulu...

Punya kenangan apa dengan jajanan masa kecil Anda ?

Senin, 25 Agustus 2008

Pecel nDesa



(ayik's post)
Kalau ke Solo jangan lupa menikmati pecel ndesa ini ya, secara ini makanan yang Insya Allah berkategori sehat. Coba lihat komposisinya, nasi beras merah plus aneka sayur2an rebus : daun kenikir, daun singkong, daun pepaya muda,tuntut pisang, kembang turi, taoge mentah, lamtoro/mlanding, lalap ketimun, bumbu gudang plus bumbu sambel pecen dari wijen hitam. Lengkap dan sangat memenuhi standar kebutuhan gizi kaya akan vitamin dan mineral dan....murcek. Apalagi kalau masih ada pelengkapnya yang tak kalah nyamleng yaitu bongko kacang tholo dan bothok sembukan...(awas yang treakhir ini bisa mengakibatkan aroma nan tak sedap pada acara buang angin anda....Nggilanik!)
So, buat anda2 yang lagi niat berdiet, aku kira pecel nDesa adalah pilihan terbaik...

PUT(h)U








(ayik's post)
Di suatu siang yang terik tiba-tiba terdengar suara merdu melengking...ngguuuuung...mendengung kencang diindera pendengaran. Apa an sih...? Woaks, ternyata ada penjual kue putu lewat depan rumah, langsung saja Aizs berteriak, ibu beli putu dong.....Woykeh dah, Nak. Panggil abangnya kesini yak.....
Nah inilah profil (abang penjual) kue putu. Eh, nggak sedep kalo abang nya yang diekspos, cukup dagangannya sajah yak, secara kue ini sudah mulai jarang2 ditemui kahir-akhir ini.
Bahan utama kue putu ini adalah tepung beras dan kelapa muda parut yang dikukus dan dicampur dengan seksama, lalu diproses kembali dengan dimasukkan kedalam bumbung potongan bambu dengan ditambahkan irisan gula jawa ditengahnya. Kemudian, yap, dikukus dalam kukusan yang ada dibalik kaleng bekas minyak goreng ini.
Setelah dirasa matang lalu dilepaskan dari cetakannya dan ditaruh diatas piring saji. Ditaburrkanlah diatasnya kelapa muda parut dan gula halus, dan silahken menikmati kue putu yang gurih manis ini sodara-sodara. Harganya yang ,murmer cukup Rp. 3.000 per sepuluh bijinya cukup membuat lidah kita nagih tiap kali si abang lewat dengan pertanda bengungannya....Nguuunggggg......
Besok-besok lewat lagi ya......

Kamis, 31 Juli 2008

Gulali Sutra lah.....







(ayik's post)
Lha ini dia yang sudah lama aku cari-cari, sudah jadi jajanan langka di kota solo, jajanan khas yang dulu selelu kita temui waktu masih di bangku SD. Nemunya juga kebetulan, instinkku yang tajam membaui ( wuikkk...) ada embok2 menggendong tenggok lengkap dengan kaleng krupuk opak dan menenteng anglo. Aku sudah yakin bahwa inilah bakul glali sutra yang sudah aku buru sekian lama.Thanks God !
Si mbok tua ini segera menggelar dagangannya di emperan toko, dan aku order dibuatkan gulali sutra. Begini cara bikinnya : dicukillah sejumput adonan gulali (dibuatnya dari gula pasir yang dicairkan dengan air ynag dijerang dibumbui perasan air jeruk nipis) lalu diulet2 dengan jemari tuanya kedalam semangkuk tepung terigu sangrai. Dan...tara....! jadilah sejumput gulali sutra yang kini penampakannya bak benang sutra yang alus tanpa mbundhet dengan rasanya yang manis abiis nyummm...nyummm...nyummm. Diemut di mulut mak klunyuummmmm...langsung lumer. Nambah lagi doong...!
Pelengkap bakulan gulali ini adalah sebentuk kerupuk opak angin yang diproses dengan dibakar diatas arang. Rasanya krupuknya standar saja, agak bangka dan tidak renyah. Tapi masih ada lagi benda yang dijual si mbok ini, yaitu anerka aksesoris cincin-gelang dan mainan model lama yang harganya pasti murce, tapi aku gak yakin apa masih ada anak jaman sekarang yang masih meminatinya ?
Sempat terlintas dalam pikiranku, berapa ya omzet dari penjualan sebakul dagangan simbok tua ini ? cukupkah buat menghidupi keluarganya ? kasihan ya, kawan ?
Ada cerita unik dari sekedar mencicipi kembali gulai sutra ini, yaitu sebuah kenangan tentang kisah ngidam ku waktu hamil si pembarep, Karin. Waktu itu ditahun 1993, aku setengah mati ngidam pengiiin banget gulali sutera ini. Sumprit ! sudah hampir tiap hari aku ngider mencarinya tapi tak juga kunjung ketemu, sampai akhirnya suatu hari nemu juga di sebuah SD dipinggiran kota solo sana. Duh, senengnya....baby ku gak jadi ngiler.

( sambil makan ini gulali aku gak berani liat tangan si mbok yang kujamin tidak hyginis ketika memulai aktivitasnya mengulet2 gulali sutra ku..., biar gak hilang selera..wakakak)